Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste H.E. Dominic Jermey CVO, OBE, melakukan kunjungan resmi ke Kota Semarang.

JATENGPEDIA.ID - Kunjungan perdana ini menjadi bagian dari program Pop-Up Embassy: UK Goes to Central Java, inisiatif Kedutaan Besar Inggris yang melibatkan British Council dan British Chamber untuk mempererat hubungan dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat sipil. Jermey disambut langsung oleh Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti di Gedung Moch Ihsan.
Dalam pertemuan tersebut, Kedubes Inggris menyerahkan hasil Program FutureGen for Change berupa tiga kursi daur ulang dari Parongpong Raw Lab, produk berbahan 90 kilogram sampah plastik yang didukung pendanaan oleh tim UK Tech Hub dan dikembangkan bersama Pijar Foundation. Menurut Jermey, inovasi tersebut menjadi simbol kolaborasi konkret antara Inggris dan Indonesia dalam mendorong ekonomi hijau.
“Kami datang untuk menjalin hubungan, mendengar perspektif lokal, dan melihat langsung bagaimana kemitraan Inggris-Indonesia memberikan dampak nyata bagi masyarakat di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang,” ujarnya.
Menurutnya, kemitraan strategis antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer kini diarahkan untuk memperkuat kerja sama di bidang pertumbuhan ekonomi, iklim dan energi, keamanan dan pertahanan, serta isu sosial. Salah satu bentuk konkret yang dibahas dalam kunjungan ini adalah dukungan terhadap inovasi startup, pengelolaan sampah plastik, dan pengembangan layanan kesehatan.
" Saya sangat senang melihat bagaimana limbah plastik dapat diolah kembali menjadi bahan bangunan dan furnitur. Ini contoh nyata inovasi lokal yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Walikota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyambut positif kunjungan Dubes Inggris sebagai peluang memperkuat kolaborasi internasional, terutama di bidang lingkungan dan inovasi ekonomi sirkular.
“Kota Semarang menjadi yang pertama mendapat kesempatan kerja sama dalam pengolahan limbah plastik menjadi furnitur. Ini peluang ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, kerja sama tersebut juga akan mendukung program pengendalian banjir dan pengelolaan air yang menjadi fokus pemerintah kota. Agustina bahkan berencana melanjutkan kolaborasi dalam Water Resilience City Summit di London pada Desember mendatang.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Arwita Mawarti mengungkapkan inovasi mengolah sampah jadi furniture merupakan inovasi yang cukup bagus untuk diterapkan di Kota Semarang. Ia melihat ada potensi besar disana, namun memang harus ada pelatihan dan pendampingan.
" Kegiataan mengolah sampah atau limbah menjadi produk bermanfaat yakni furniture bisa diadopsi di Kota Semarang. Harapannya bisa ada pelatihan, agar nanti pengelolaan sampah menjadi kursi ini bisa diimplementasikan di Semarang," jelasnya.
Produksi sampah di Kota Semarang saat ini jumlahnya masih tinggi, terutama sampah rumah tangga. Saat ini, pengelolaan sampah di Kota Semarang selai daur ulang menjadi beberapa produk yang dilakukan oleh bank-bank sampah, sampah di TPA Jatibarang juga dikelola menjadi energi listrik.
"1.200 ton perhari, 1.000 tonnya buat PSEL, artinya masih banyak, nah ini bisa berpotensi untuk didaur ulang jadi barang bermanfaat," tutupnya.













