Mencari

Bertahan Pasca-Gempa NTT, Pengungsi di Borong Kumpulkan Besi Tua Demi Dapur Umum

Bertahan Pasca-Gempa NTT, Pengungsi di Borong Kumpulkan Besi Tua Demi Dapur Umum

download - 2026-08-19T142013.592
JATENGPEDIA.ID - Keterlambatan penyaluran bantuan pascabencana membuat warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, harus memutar otak demi menyambung hidup. Hingga Rabu (19/8/2026). Sebagian besar pengungsi yang berprofesi sebagai buruh tani belum berani kembali mengolah lahan akibat trauma dan ancaman gempa susulan. Sebagai jalan keluar darurat, mereka terpaksa mengumpulkan sisa-sisa besi tua dari reruntuhan bangunan yang roboh.

Dilansir dari CNN Indonesia, area pembuangan puing kini disesaki warga yang berburu besi bekas untuk langsung dijual kepada pengepul di lokasi. Pendapatan yang diperoleh dari penjualan materi darurat tersebut tidak hanya dipakai untuk kebutuhan pribadi, melainkan disisihkan guna membiayai operasional dapur umum pengungsian. Kondisi prihatin ini dikonfirmasi oleh Dionisius Parera, warga Kota Borong. 

"Bantuan tak kunjung tiba. Sementara warga mayoritas buruh tani belum berani bekerja karena takut sewaktu-waktu terjadi gempa dan air laut naik. Apalagi gempa susulan terjadi terus-menerus dengan getaran yang lumayan kuat. Akhirnya warga melakukan pekerjaan apa saja untuk dapat penghasilan, terutama untuk membiayai dapur umum selama mereka tinggal bersama di pengungsian," ujar Dionisius.

Bagi warga setempat, keberadaan puing bangunan runtuh menjadi satu-satunya tumpuan harapan di tengah krisis pangan yang mengancam. Meski berada dalam situasi yang serba sulit dan melelahkan, semangat gotong royong antar sesama pengungsi tetap terjaga demi memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Salah seorang warga Bea Borong, Aris Lodo (44), menceritakan bahwa dirinya mampu mengumpulkan hingga 15 kilogram besi tua saban hari untuk dijual. Aris menceritakan situasi tersebut sebagai tumpuan bertahan hidup. 

"Kami memang menderita akibat bencana gempa bumi, ditambah lagi belum ada bantuan yang masuk. Tapi kemudian ada puing reruntuhan yang dibuang dekat tempat pengungsian kami, sehingga dapat kami ambil besi bekasnya untuk biaya hidup dalam kondisi darurat seperti sekarang ini. Warga saling berbagi, rebutan besi tua dari reruntuhan gedung menjadi mata pencaharian baru untuk bertahan hidup," tutur Aris.

Meskipun aktivitas mengais puing ini cukup membantu kelangsungan hidup mereka di tenda darurat, para warga sangat berharap penanganan dari pemerintah segera menyasar wilayah mereka. Aris mengungkapkan harapannya secara terbuka. 

"Kami berharap bantuan segera tiba, agar kami bisa berhenti mengais puing dan kembali menata kehidupan kami," tambahnya.

 

iconLangganan

ke Newsletter