Dosen Poltekkes Surakarta Latih Ibu-Ibu Jaten Sukses Olah Jahe-Secang Jadi Minuman Antioksidan

JATENGPEDIA.ID – Tim Dosen Program Studi D3 Farmasi Poltekkes Kemenkes Surakarta menggelar kegiatan pengabdian masyarakat berupa pemberdayaan dan pelatihan pembuatan sediaan serbuk instan kombinasi jahe dan secang sebagai minuman antioksidan di Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Kegiatan yang diikuti oleh 35 ibu-ibu warga setempat ini bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus membuka peluang usaha mandiri berbasis tanaman herbal.
Pelatihan berlangsung pada Bulan Mei 2026 tersebut dibuka oleh plt. Kepala Desa Jaten Bapak Andhi almaududi dan sambutan oleh Ibu apt. Definingsih Yuliastuti, S.Farm., M.Farm., selaku ketua tim pengabdian masyarakat. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh perlunya sosialisasi hasil penelitian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang manfaat jahe dan secang sebagai antioksidan alami, serta belum adanya keterampilan mengolah kedua tanaman tersebut menjadi produk yang praktis dan bernilai jual di Desa Jaten, Karanganyar .
“Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas antioksidan pada serbuk instan kombinasi jahe emprit dan secang menghasilkan rata rata IC50 sebesar 78,04 ppm dan dikategorikan sebagai antioksidan kuat. Sediaan serbuk instan kombinasi jahe dan secang memiliki efektivitas lebih besar dibandingkan dengan sediaan serbuk instan jahe tunggal dengan nilai rata rata IC50 sebesar 113,83 ppm dan dikategorikan sebagai antioksidan sedang dan hasil penelitian tersebut perlu disosialisasikan kepada masyarakat” ujar Definingsih Yuliastuti.
Kegiatan dilaksanakan dalam dua tahap utama. Pertama, kegiatan penyuluhan menggunakan media LCD dan leaflet yang berisi materi tentang tanaman jahe dan secang, kandungan senyawa yang terkandung dalam tanaman tersebut, serta hasil uji antioksidan dari jahe dan secang. Kedua, berupa kegiatan pelatihan praktek pembuatan serbuk instan dari campuran rimpang jahe dan kayu secang, mulai dari proses pembuatan produk hingga pengemasan produk serta minum produk hasil pelatihan bersama masyarakat Desa Jaten. Dokumentasi pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini disajikan pada gambar di bawah ini.
Untuk mengukur efektivitas kegiatan, tim pengabdi melakukan pre-test dan post-test dengan 10 pertanyaan. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan. Rata-rata nilai pre-test peserta hanya 52,6% (kategori kurang), sedangkan setelah pelatihan rata-rata nilai post-test meningkat menjadi 93,7% (kategori baik). Sebanyak 32 dari 35 peserta (91%) berhasil mencapai nilai sempurna 100% pada post-test.
“Saya awalnya tidak tahu kalau jahe dan secang itu memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Setelah ikut pelatihan, saya bisa membuat sendiri serbuk instan di rumah, rasanya enak dan warna merahnya menarik. Ini juga bisa jadi tambahan usaha jualan wedang,” ujar salah satu peserta, Ibu ED, yang nilai pre-testnya 70% dan meningkat menjadi 100% setelah pelatihan.
Tim pelaksana juga memberikan arahan tentang desain kemasan yang menarik dan strategi pemasaran produk. Menurut Dessy Ratna Sari, M.Si. selaku anggota tim pengabdi, aspek kewirausahaan ini penting agar masyarakat tidak hanya sehat tetapi juga mandiri secara ekonomi.
“Kami ingin masyarakat Desa Jaten tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen minuman herbal instan. Produk ini memiliki warna merah alami dari secang dan rasa khas jahe, sangat potensial untuk dipasarkan sebagai minuman kesehatan fungsional,” jelas Dessy Ratna Sari.
Kegiatan pengabdian ini merupakan salah satu wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus implementasi hasil penelitian dosen Poltekkes Kemenkes Surakarta. Ke depan, tim berharap program ini dapat berkelanjutan dengan pembentukan kader-kader wirausaha herbal di Desa Jaten yang berlokasi hanya 8,9 km dari kampus Poltekkes Surakarta. Luaran wajib dari kegiatan ini akan dipublikasikan melalui media massa/elektronik, sedangkan luaran tambahan berupa hak cipta leaflet materi penyuluhan.













