Mencari

Gandeng SMP Sultan Agung 4, Mahasiswa Ilkom USM Gelar Kampanye "Pelecehan Tak Kenal Gender"

Gandeng SMP Sultan Agung 4, Mahasiswa Ilkom USM Gelar Kampanye "Pelecehan Tak Kenal Gender"

WhatsApp Image 2026-05-22 at 14.40.17 (1)
JATENGPEDIA.ID – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (USM) menggelar kampanye edukatif bertajuk “Pelecehan Tak Kenal Gender” di SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang, Kamis (21/5/2026). Kegiatan yang diinisiasi melalui Mata Kuliah Komunikasi Jender dan Minoritas ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai urgensi pencegahan kekerasan seksual di lingkungan sekolah sejak dini.

Mengusung jargon “Siapa pun bisa jadi korban, siapa pun bisa jadi pelaku,” sosialisasi ini menyasar siswa-siswi kelas 8A. Fokus utama dari kampanye ini adalah menumbuhkan kesadaran mengenai batas-batas pergaulan yang sehat, memutus bias gender dalam kasus pelecehan, serta membangun ruang belajar yang aman dan saling menghargai.

Agenda ini turut dihadiri oleh Kepala SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang Ah. Solikul Hadi, M.Pd.I, serta dosen pengampu mata kuliah sekaligus mentor kegiatan, Dr. Yulianto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si. Dalam sambutannya, Solikul Hadi menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif konkret dari para mahasiswa USM dalam membantu mengedukasi anak didiknya.

Menurut Solikul, edukasi semacam ini sangat krusial agar para siswa paham bahwa tindakan pelecehan bisa menimpa siapa saja tanpa memandang jenis kelamin. Ia juga meminta para siswa untuk lebih berani bersuara dan melaporkan setiap tindakan mencurigakan atau tidak menyenangkan yang mereka alami atau lihat di sekitar sekolah.

Senada dengan hal itu, Ketua Pelaksana Kegiatan, Anggie Putri Melani, menjelaskan bahwa kampanye ini dirancang sebagai ruang diskusi yang inklusif dan kasual bagi para remaja. Harapannya, siswa bisa lebih peka terhadap kenyamanan orang lain di sekitarnya. "Kampanye ini menjadi ruang belajar bersama bagi siswa untuk lebih peka terhadap tindakan yang dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman," tutur Anggie.

Sementara itu, Dr. Yulianto Budi Setiawan juga mengingatkan pentingnya menanamkan pemahaman terkait keamanan diri dan kepedulian lingkungan sejak usia remaja. Ia mendorong agar sekolah-sekolah menjadi garda terdepan yang bersih dari segala bentuk intimidasi maupun pelecehan seksual.

Edukasi interaktif ini menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Aditya Alfarizki dan Muhammad Falevi Firgi Saputra, S.H. Pada sesi pertama, Aditya memaparkan spektrum pelecehan seksual yang kerap tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa pelecehan tidak melulu soal kontak fisik, melainkan juga mencakup aspek verbal dan digital, seperti catcalling, gurauan bernada mesum, komentar negatif terhadap bentuk tubuh, tatapan intimidatif, hingga penyebaran foto privat tanpa persetujuan.

Aditya juga menegaskan bahwa stigma kekerasan seksual hanya terjadi pada perempuan harus segera diubah, sebab laki-laki pun memiliki risiko yang sama untuk menjadi korban maupun pelaku. Oleh sebab itu, setiap siswa diwajibkan menghormati ruang personal orang lain dan tidak lagi menormalisasi candaan yang merendahkan martabat.

Pada sesi kedua, Muhammad Falevi fokus pada aspek perlindungan hukum dan mitigasi risiko. Ia memperkenalkan aplikasi LIBAS (Polrestabes Semarang) sebagai kanal pengaduan cepat yang bisa diakses oleh masyarakat, termasuk pelajar. Aplikasi ini dilengkapi dengan tombol darurat (panic button), hotline 110, serta fitur laporan awal yang dijamin aman serta praktis.

Selama dua jam pelaksanaan, suasana ruang kelas tampak hidup dan komunikatif. Para peserta aktif melempar pertanyaan kritis melalui secarik kertas, mulai dari taktik menghadapi pelaku catcalling, pemetaan area rawan kejahatan, hingga langkah hukum yang harus diambil ketika terjebak dalam grup WhatsApp yang menyebarkan konten pornografi. Di sela-sela pemaparan materi, panitia juga menyisipkan ice breaking dan gim interaktif untuk mencairkan suasana.

Respons positif datang dari salah satu siswa kelas 8A, Narayama. Ia mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai jenis-jenis pelecehan non-fisik yang ternyata sering terjadi di media sosial atau lewat obrolan sehari-hari. Narayama menilai kegiatan ini sangat membuka mata agar para siswa tidak lagi memilih diam saat melihat ada ketidakadilan.

Siswa lainnya, Nabila Alika, menambahkan bahwa pengenalan aplikasi pelaporan seperti LIBAS memberikan rasa aman tersendiri bagi para siswi. Menurut Nabila, menjaga jarak aman dalam berteman menjadi kunci agar terhindar dari perilaku ofensif seperti menyentuh fisik tanpa izin atau berkomentar tidak sopan mengenai fisik teman sendiri.

Melalui gerakan go-to-school ini, civitas akademika Ilkom USM berharap dapat membentuk ekosistem pendidikan di Kota Semarang yang bebas dari bayang-bayang kekerasan seksual. Kegiatan ditutup secara simbolis dengan meneriakkan yel-yel penyemangat, penyerahan plakat, dan sesi dokumentasi bersama antara pihak sekolah, dosen, pemateri, serta seluruh mahasiswa pelaksana.

 

iconLangganan

ke Newsletter