Mencari

Hangat dan Gurihnya Suutei Tsai, Teh Susu Mentega dari Stepa Mongolia

Hangat dan Gurihnya Suutei Tsai, Teh Susu Mentega dari Stepa Mongolia

download - 2026-08-14T111552.605
JATENGPEDIA.ID - Gaya hidup masyarakat nomaden di padang rumput (stepa) Mongolia melahirkan tradisi kuliner yang sangat adaptif terhadap alam. Salah satu kekayaan budaya mereka yang paling menonjol adalah Suutei Tsai, hidangan teh susu yang disajikan hangat dengan cita rasa gurih dan asin. Berbeda jauh dari bubble tea atau teh tarik ala Asia Tenggara yang dominan manis, Suutei Tsai merupakan minuman tinggi kalori yang dirancang untuk menjaga ketahanan tubuh di tengah iklim dingin yang ekstrem.

Proses pembuatan Suutei Tsai dimulai dengan merebus batangan teh hijau atau teh hitam pekat di dalam kuali besar berisi air. Setelah sari teh keluar, pembuatnya akan menambahkan susu segar bisa berasal dari sapi, kambing, atau bahkan yak bersama sejumput garam dapur. Untuk menambah kekayaan rasa dan kandungan energi, tak jarang mentega atau lemak ternak serta beras sangrai ikut dicampurkan ke dalam rebusan tersebut hingga aromanya merebak.

Teknik penyajian teh ini juga memiliki keunikan tersendiri yang membutuhkan keterampilan. Penuang teh akan mengaut cairan dari kuali menggunakan sendok besar lalu menuangkannya kembali dari ketinggian secara berulang-ulang. Proses mengocok di udara ini bertujuan untuk menyatukan elemen air dan lemak susu agar tercipta tekstur minuman yang halus serta menghasilkan buih tipis yang nikmat saat diseruput.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Mongolia, menyajikan Suutei Tsai adalah bentuk penghormatan paling mendasar kepada setiap tamu yang berkunjung ke ger (tenda tradisional). Begitu seseorang melangkah masuk melintasi pintu tenda, tuan rumah akan segera menyodorkan mangkuk kayu berisi Suutei Tsai hangat. Menolak mangkuk tersebut dianggap kurang sopan, karena minuman ini adalah lambang keterbukaan dan keramahan pemilik rumah.

Karakter rasa Suutei Tsai yang menyerupai kaldu gurih ketimbang teh manis biasa menjadikannya sangat spesifik dan belum ada padanannya di Indonesia. Meski demikian, mempelajari keberadaan Suutei Tsai memberikan gambaran menarik tentang bagaimana kearifan lokal suatu bangsa mampu mengolah bahan-bahan sederhana menjadi minuman fungsional yang menyatu erat dengan kelangsungan hidup mereka.

 

iconLangganan

ke Newsletter