Harga Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel Akibat Memanasnya Konflik di Laut Merah

JATENGPEDIA.ID - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam melebihi enam persen pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Lonjakan ini membawa minyak mentah acuan Brent kembali melampaui level psikologis USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei lalu.
Kenaikan drastis ini dipicu oleh klaim serangan kelompok Houthi asal Yaman terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi yang sedang melintas di kawasan Laut Merah, sehingga memicu ketakutan pasar akan terganggunya rantai pasokan energi global.
Dilansir dari Investing.com pada Jumat, 24 Juli 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September melonjak hingga 7,4 persen menjadi USD101,08 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) AS naik 6,8 persen ke angka USD92,75 per barel. Selain eskalasi keamanan di Timur Tengah, kegagalan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk kondisi pasar karena kembali memicu kecemasan terhadap inflasi global.
Gangguan pada jalur pelayaran vital seperti Selat Bab el-Mandeb berpotensi memaksa kapal memutar lewat Afrika bagian selatan, yang secara langsung meningkatkan biaya pengiriman dan durasi pelayaran.
Kondisi geopolitik yang kian mendidih ini mendapat perhatian serius dan kecaman keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Melalui unggahan di media sosialnya, Trump menegaskan peringatan keras terhadap kelompok militan tersebut maupun pihak yang mendukungnya.
"Iran akan dimintai pertanggungjawaban apabila Houthi kembali melakukan serangan terhadap jalur pelayaran internasional," tegas Trump saat memperingatkan potensi adanya respons militer balasan jika aksi serupa terus berulang.
Laporan dari Axios menunjukkan bahwa pemerintah Amerika Serikat kini tengah mempertimbangkan opsi operasi militer yang lebih besar terhadap Iran, meski belum ada keputusan resmi yang dikeluarkan.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim adanya insiden terpisah di dekat Selat Hormuz yang menyebabkan satu kapal tanker terbakar, serta menegaskan bahwa seluruh kapal tanker minyak wajib berkoordinasi dengan otoritas setempat sebelum melintas. Situasi serba tidak pasti ini diprediksi akan terus membayangi pergerakan harga energi dunia dalam beberapa waktu ke depan.













