Jaga Stabilitas Pangan, Bapanas Guyur 1,34 Juta Ton Beras ke Pasar

JATENGPEDIA.ID - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengintensifkan penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 1,34 juta ton sepanjang semester pertama tahun ini guna menjaga stabilitas harga pangan nasional pada Kamis, 2 Juli 2026.
Kepala Bapanas yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa langkah intervensi pasar ini terbukti efektif dalam meredam gejolak harga di tingkat konsumen serta menopang keterkendalian laju inflasi. Distribusi masif ini sepenuhnya mengandalkan stok pangan yang dihimpun dari hasil panen petani dalam negeri melalui optimalisasi penyerapan oleh Perum Bulog.
"Inflasi dan harga beras secara nasional masih terjaga, salah satunya ditopang oleh penyaluran stok CBP yang bersumber dari hasil serapan produksi beras dalam negeri," ungkap Amran.
Dilansir dari Antara, realisasi penyaluran komoditas pokok tersebut menyasar berbagai program strategis nasional, termasuk Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digulirkan berkala sejak awal tahun hingga bulan Juni dengan total alokasi ratusan ribu ton. Selain itu, optimalisasi cadangan pangan ini juga dialokasikan untuk menuntaskan program bantuan pangan bagi 33,14 juta keluarga penerima manfaat, pemenuhan kebutuhan logistik aparatur sipil negara di daerah tertentu, hingga kesiapan stok darurat kebencanaan.
Di sisi lain, tata kelola logistik ini didukung oleh ketersediaan stok di gudang pemerintah yang saat ini mencatatkan volume yang sangat melimpah.
"Stok kita hari ini tertinggi sepanjang sejarah, selama kita merdeka. Ini stoknya hari ini 5,1 juta ton. FAO baru mengeluarkan pengumuman, justru produksi kita melompat, estimasi di 2026 itu 38 juta ton," Tambahnya.
Jika proyeksi peningkatan produksi dari lembaga pangan dunia tersebut benar-benar terealisasi, potensi surplus beras nasional pada periode ini diperkirakan akan melonjak signifikan melampaui capaian tahun-tahun sebelumnya. Guna mengantisipasi lonjakan produksi yang melimpah tersebut, pihak kementerian bergerak cepat dengan menginisiasi pembangunan infrastruktur penyimpanan baru berskala besar di berbagai wilayah strategis dengan dukungan anggaran bernilai triliunan rupiah. Amran memproeksikan kapasitas tampung fasilitas baru ini akan mampu menjaga mutu komoditas dalam jangka panjang.
"Kalau ini terjadi, artinya delapan juta ton surplus tambah empat juta, itu bisa sampai 13 juta ton. Sehingga kita bangun gudang cepat. Ada 100 gudang dengan anggaran Rp5 triliun dan gudang itu bisa menyimpan beras dua sampai tiga tahun," imbuhnya.
Upaya stabilisasi pasokan tersebut tercermin dari laporan perkembangan harga makro di mana grafik pergerakan harga beras di tingkat eceran cenderung bergerak melandai dan jauh lebih aman dibanding fluktuasi komoditas hortikultura seperti bawang. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa tren inflasi bulanan komoditas utama ini berhasil diredam di bawah ambang batas satu persen, sebuah capaian historis yang jauh lebih sehat dibanding gejolak pasar beberapa tahun silam. Menutup pemaparan mengenai kondisi fundamental pasar saat ini, Ateng mengonfirmasi kondisi riil di lapangan.
"Di tingkat eceran terjadi inflasi beras secara month to month sebesar 0,45 persen dan secara year on year sebesar 3,98 persen," pungkasnya.













