Kembali ke Akar: Mengapa Makanan Berunsur Tanah Mulai Dilirik Warga Kota?

JATENGPEDIA.ID - Di tengah kepungan makanan serba instan, gaya hidup grounded eating kini mulai dilirik oleh kalangan masyarakat perkotaan. Praktik ini berfokus pada konsumsi bahan makanan organik yang tumbuh di dalam atau bersentuhan langsung dengan tanah, seperti umbi-umbian, jamur, hingga kacang-kacangan.
Para penganutnya percaya bahwa memakan bahan makanan segar tanpa olahan berlebih dapat membantu tubuh memulihkan ritme alami dan mengurangi kecemasan harian.
Secara filosofis, grounded eating mengajarkan seseorang untuk kembali terhubung dengan alam melalui apa yang mereka santap. Proses penyajiannya cenderung sangat sederhana, mengutamakan pemanggangan ringan atau dikukus agar tekstur alami dan aroma khas tanah (earthy) tidak hilang.
Tren ini bukan sekadar pola makan harian, melainkan bentuk jeda sejenak dari hiruk-pikuk kesibukan kota yang sering kali memicu stres berkepanjangan.
Keunikan lain dari gaya hidup ini terletak pada ritual penyajiannya yang dilakukan secara sadar atau mindful. Orang yang menerapkan grounded eating akan menghabiskan makanan tanpa gangguan layar gawai maupun televisi.
Mereka menikmati setiap tekstur dan rasa alami bahan makanan sebagai cara untuk melatih rasa syukur serta keheningan pikiran. Momen makan pun berubah fungsi dari sekadar pemenuhan nutrisi menjadi sesi meditasi harian yang menenangkan.
Bagi sebagian orang, tren ini juga berdampak positif pada keberlanjutan lingkungan lokal. Karena mengandalkan bahan segar dari dalam tanah, para pelaku gaya hidup ini lebih memilih berbelanja langsung di pasar tani lokal dibanding supermarket modern. Selain menyegarkan pikiran dan menyehatkan pencernaan, grounded eating secara tidak langsung mendukung perekonomian petani kecil di sekitar perkotaan.













