Lonjakan Titik Panas Karhutla Capai 5 Ribu, BMKG Peringatkan Puncak Risiko Musim Kemarau

JATENGPEDIA.ID - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tanah air kian memprihatinkan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi akumulasi 5.019 titik panas hingga pertengahan Juli 2026. Peningkatan jumlah hotspot sejak awal tahun ini tergolong sangat agresif dan lajunya bahkan melampaui kondisi saat El Nino kuat melanda Indonesia pada 2015, 2019, maupun 2023.
Sejauh ini, Kalimantan Barat, Papua Selatan, serta Riau menjadi tiga wilayah yang menyumbang sebaran titik panas paling dominan. BMKG memperkirakan puncak bahaya karhutla bakal terjadi pada kurun Agustus hingga September 2026 menyusul potensi kekeringan yang makin parah di berbagai daerah.
Dilansir dari Antara, fenomena kekeringan ini dipicu oleh makin kuatnya El Nino yang diprediksi terus bertahan dan mencapai puncaknya pada periode Desember 2026 hingga Januari 2027. Bahkan, data BMKG menunjukkan ada peluang besar fenomena ini berkembang melebihi kategori kuat.
Memasuki penghujung Juli 2026, sekitar 54,5 persen Zona Musim di Indonesia sudah resmi masuk musim kemarau. Dominasi kemarau ini sangat terasa di kawasan selatan khatulistiwa, mulai dari Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian besar Sulawesi dan Papua yang kini berstatus hari tanpa hujan (HTH) tingkat tinggi.
Kondisi tersebut membuat daerah-daerah seperti Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, dan Papua Selatan berada dalam zona risiko karhutla tingkat tinggi. Sementara itu, eskalasi bahaya di wilayah Pulau Sulawesi diproyeksikan baru akan merangkak naik secara bertahap pada rentang September hingga Oktober 2026.
Rentang waktu antara Juli sampai akhir September dinilai sebagai periode paling krusial, terlebih sebaran asap karhutla saat ini terpantau sudah mulai menyelimuti beberapa area di Kalimantan Barat.
Guna menekan dampak buruk yang makin meluas, koordinasi dan aksi nyata pemantauan di lapangan perlu segera ditingkatkan. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan mendesaknya upaya pencegahan ini.
"Jadi bulan-bulan kritis adalah mulai saat ini bulan Juli hingga akhir bulan September tahun 2026. Nah, intensifikasi pemantauan dan pengawasan di daerah-daerah ini tentunya menjadi krusial untuk mencegah eskalasi titik api dan dampak kerusakan lingkungan yang lebih luas," jelasnya.













