Mencari

Mengapa Buruh dan Pejabat di Jepang Boleh Tidur Saat Rapat? Mengenal Tradisi Inemuri

Mengapa Buruh dan Pejabat di Jepang Boleh Tidur Saat Rapat? Mengenal Tradisi Inemuri

download - 2026-08-14T150209.309
JATENGPEDIA.ID - Berbeda dengan norma kerja di Indonesia yang menganggap tertidur di meja kantor atau ruang rapat sebagai bentuk ketidakprofesionalan, masyarakat Jepang justru memandangnya dari sudut pandang yang bertolak belakang. Praktik yang dikenal dengan istilah inemuri yang secara harfiah berarti "hadir tetapi tidur" merupakan pemandangan biasa di perkantoran, transportasi umum, hingga acara resmi pemerintahan. Fenomena ini mencerminkan dinamika etos kerja ekstrem yang melekat kuat dalam budaya masyarakat setempat.

Secara filosofis, inemuri dianggap sebagai bukti nyata bahwa seorang pekerja telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya hingga mengalami kelelahan fisik. Rekan kerja maupun atasan kerap mengartikan momen ketiduran singkat ini sebagai simbol dedikasi tinggi terhadap tugas yang diembannya. Alih-alih mendapatkan teguran atau sanksi disiplin, mereka yang melakukan inemuri justru kerap dipandang sebagai sosok pekerja keras yang loyal.

Namun, terdapat aturan tidak tertulis yang mengatur bagaimana inemuri boleh dilakukan agar tetap dianggap sopan secara sosial. Seseorang harus tetap mempertahankan posisi tubuh yang menunjukkan bahwa ia siap sedia untuk sewaktu-waktu terbangun dan berpartisipasi kembali dalam aktivitas kerja. Tidur telentang atau membawa bantal dan selimut ke area kantor jelas melanggar etika, karena inemuri harus terkesan sebagai ketidaksengajaan akibat kelelahan bekerja.

Hierarki sosial juga memainkan peran penting dalam toleransi terhadap tradisi ini di tempat kerja. Para pekerja senior atau mereka yang memegang posisi manajemen puncak memiliki kebebasan lebih besar untuk melakukan inemuri di tengah forum resmi. Sementara itu, pegawai tingkat awal biasanya lebih menahan diri karena mereka masih dituntut untuk membuktikan keaktifan dan ketelitian dalam menyerap informasi harian.

Meskipun terlihat unik dan menguntungkan bagi para pekerja yang kekurangan waktu istirahat, inemuri sebenarnya memotret potret buram dari budaya kerja keras berlebihan yang masih membayangi Jepang. Kebiasaan ini menjadi katup penyelamat darurat bagi masyarakat yang memiliki jam tidur sangat terbatas di rumah akibat tingginya beban kerja harian dan durasi perjalanan pulang-pergi yang panjang.

 


 

 

iconLangganan

ke Newsletter