Mencari

Menkeu Optimistis Tekanan Inflasi Juni 2026 Segera Mereda Seiring Turunnya Harga BBM

Menkeu Optimistis Tekanan Inflasi Juni 2026 Segera Mereda Seiring Turunnya Harga BBM

images (7)-1
JATENGPEDIA.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproeksikan bahwa tekanan inflasi di Indonesia bakal segera melandai setelah sempat dipengaruhi oleh lonjakan harga komoditas musiman dan bahan bakar minyak (BBM) pada Kamis, 2 Juli 2026. 

Ia menilai gejolak harga yang terjadi belakangan ini, termasuk komoditas pangan seperti cabai, bersifat fluktuatif dan tidak akan bertahan lama. Penurunan harga minyak dunia juga diyakini akan membawa dampak positif terhadap koreksi harga BBM domestik dalam waktu dekat.

 "Tapi kan sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan sudah turun, harga Pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang," tutur Purbaya.

Dilansir dari Antara, kondisi perekonomian saat ini dinilai masih berada dalam koridor yang aman karena kenaikan harga bukan dipicu oleh lonjakan permintaan masyarakat yang berlebihan. Indikator utamanya terlihat dari angka inflasi inti yang masih sangat stabil, sehingga lonjakan harga pangan dan energi diperkirakan bakal mereda dalam hitungan bulan ke depan. 

"Basically gitu, kita lihat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali. Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat." Tambahnya.

Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi tahunan Indonesia pada periode ini bertengger di angka 3,34 persen (yoy), dengan inflasi bulanan sebesar 0,44 persen (mtm). Sektor transportasi menjadi motor utama penentu pergerakan angka tersebut karena mengalami inflasi bulanan hingga 2,29 persen dan menyumbang andil sebesar 0,28 persen terhadap inflasi nasional. Lonjakan di sektor ini paling banyak dipicu oleh penyesuaian harga bensin yang memberikan andil 0,21 persen, diikuti oleh fluktuasi tarif penerbangan udara sebesar 0,05 persen, serta kenaikan harga pelumas kendaraan sebesar 0,01 persen.

Di sisi lain, kelompok pengeluaran untuk makanan, minuman, dan tembakau juga ikut menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,20 persen dengan andil nasional sebesar 0,06 persen. Beberapa komoditas dapur harian menjadi pendorong utama di sektor ini, seperti bawang merah yang menyumbang andil 0,04 persen, bawang putih sebesar 0,03 persen, dan beras dengan andil 0,02 persen. 

Meski demikian, fundamental ekonomi makro secara keseluruhan masih terjaga dengan baik yang dibuktikan oleh realisasi inflasi inti bulanan sebesar 0,23 persen (mtm) dan inflasi inti tahunan yang tetap kokoh di level 2,76 persen (yoy).

iconLangganan

ke Newsletter