Serangan Udara Israel di Kamp Nuseirat Tewaskan Pasangan Suami Istri dan Bayi Berusia 6 Bulan

JATENGPEDIA.ID — Sebuah serangan udara yang diluncurkan militer Israel menghantam sebuah apartemen di kamp pengungsian Nuseirat, Gaza Tengah, pada Minggu (24/5). Otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa insiden tersebut merenggut tiga korban jiwa yang merupakan satu keluarga, termasuk seorang bayi berusia enam bulan. Petugas medis mengidentifikasi para korban tewas sebagai pasangan suami istri, Mohammad Abu Mallouh dan Alaa Zaqlan, serta anak mereka yang masih bayi bernama Osama.
Tragedi ini memicu duka mendalam bagi sanak saudara yang mendatangi kamar jenazah Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir Al-Balah untuk melepas kepergian para korban.
Dilansir dari Reuters, tak lama setelah insiden tersebut, penembakan oleh tentara Israel juga menewaskan seorang pria Palestina di wilayah utara Gaza tepatnya di dekat klinik medis yang dikelola PBB di kamp pengungsian Jabalia. Hingga berita ini diturunkan, pihak militer Israel dilaporkan belum memberikan komentar resmi terkait kedua insiden mematikan tersebut.
Isak tangis pecah saat pihak keluarga menceritakan kronologi serangan yang terjadi di tengah malam itu.
"Seorang pria yang sedang tidur bersama istri dan bayi laki-lakinya yang berusia 6 bulan di tempat tidur mereka. Roket jatuh tepat di tempat tidurnya, membawa dia pergi bersama istri dan putranya, meninggalkan enam anak perempuan yang masih kecil," ungkap nenek sang bayi, Umm Hamza Abu Mallouh.
Gempuran ini mengejutkan warga karena terjadi tanpa ada peringatan evakuasi terlebih dahulu dari pihak Israel. Kekecewaan mendalam juga diutarakan oleh Yehia Abu Mallouh, saudara kandung korban tewas.
"Kami mendapati rumah saudara laki-laki saya telah menjadi sasaran saat dia sedang tidur di rumahnya. Kami menemukan mereka (pihak keluarga) terpotong-potong tanpa peringatan sebelumnya," ujarnya.
Ia juga mempertanyakan efektivitas gencatan senjata bulan Oktober lalu yang ditengahi oleh Presiden AS Donald Trump yang kini dinilai gagal menghentikan serangan.
"Tujuan dari gencatan senjata seharusnya adalah perdamaian, tanpa ada serangan atau apa pun, tetapi musuh mengejutkan mereka di malam hari," tambah Yehia.
Kesepakatan gencatan senjata tersebut hingga kini belum mampu meredakan ketegangan sepenuhnya di Gaza, mengingat pembicaraan tidak langsung antara Israel dan Hamas terkait pelucutan senjata masih berada dalam posisi buntu. Kondisi ini kian memperpanjang penderitaan warga sipil di dalam daerah kantong yang kini sebagian besar wilayahnya telah dikuasai Israel tersebut. Berdasarkan data dari otoritas kesehatan Gaza, sekitar 880 warga Palestina dilaporkan telah tewas dalam berbagai serangan Israel sejak gencatan senjata resmi diberlakukan.













