Soroti Fenomena Medsos Kebablasan, Dr. Saiful Hadi Ajak Gen Z Selalu 'Cross-Check'

JATENGPEDIA.ID - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USM menggelar seminar Hak Asasi Manusia (HAM) bertajuk "HAM di Era Digital: Peran Mahasiswa dalam Menjaga Kebebasan yang Bertanggung Jawab" pada Kamis (11/6/2026).
Acara yang berlangsung dinamis ini dihadiri oleh 160 mahasiswa yang antusias mengkaji ulang batasan kebebasan berekspresi baik di dunia maya. Seminar ini diinisiasi sebagai ruang dialektika kritis guna merespons makin kaburnya sekat antara kebebasan berpendapat dan pelanggaran hukum di media sosial.
Dr. Saiful Hadi, hadir secara langsung untuk memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya menghidupkan iklim akademik melalui forum-forum diskusi ilmiah yang kontributif. “Kita harus menjadi mahasiswa yang tidak hanya fokus pada peningkatan potensi diri secara individu, tetapi juga aktif menginisiasi kegiatan diskusi seperti ini. Tujuannya jelas, untuk memperluas cara berpikir, mengasah daya kritis, serta membentuk karakter generasi muda yang peka terhadap isu sosial dan penegakan hukum,” ujar Saiful.
Di hadapan peserta yang didominasi oleh Generasi Z, Saiful menyoroti fenomena digital yang kerap kebablasan. Ia menyayangkan maraknya tren di mana segala hal dengan mudah diunggah ke media sosial tanpa proses verifikasi atau cross-check terlebih dahulu. “Di era Gen Z ini, banyak informasi yang diunggah begitu saja tanpa dipastikan kebenarannya. Saya berpesan agar kalian tidak mudah terprovokasi; kita harus selalu melihat dari dua sisi. Hati-hati dalam ber-media sosial, jangan sampai ketidaktahuan kita justru berujung pada jeratan UU ITE” tegasnya.
Lebih lanjut, Saiful memaparkan bahwa esensi HAM pada dasarnya telah melekat pada diri manusia sejak lama, jauh sebelum hukum modern merumuskannya secara tertulis. Kebebasan berpendapat digital hanyalah salah satu bentuk turunan dari hak fundamental tersebut yang pemanfaatannya tetap harus menghormati hak orang lain. “Hak asasi itu melekat pada setiap individu. Prinsip mengenai bagaimana kita menjaga nyawa dan kehormatan diri sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, jauh sebelum era digital ini lahir,” tambahnya.
Menutup sambutannya, ia menitipkan harapan besar agar kegiatan serupa terus digalakkan, baik di tingkat fakultas maupun universitas. Diskusi-diskusi substantif dinilai menjadi investasi penting untuk menyiapkan estafet kepemimpinan bangsa di masa depan. “Silakan buat lebih banyak kegiatan seperti ini ke depannya agar pengetahuan kita terus meningkat. Sebab, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, generasi kalianlah yang akan memimpin bangsa ini. Tolong hidupkan acara ini dengan diskusi yang hangat sehingga bisa menambah wawasan dan bermanfaat bagi kita semua,” pungkasnya.













