Mencari

Suhu Panas Mengintai, BMKG Peringatkan Bahaya Heatstroke hingga ISPA

Suhu Panas Mengintai, BMKG Peringatkan Bahaya Heatstroke hingga ISPA

download (88)
JATENGPEDIA.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai berbagai risiko kesehatan akibat paparan suhu panas menyengat di sepanjang musim kemarau Jumat (31/72026). Kurangnya tutupan awan selama musim kemarau menjadi pemicu utama lonjakan suhu udara yang cukup terik di sejumlah daerah. Kondisi ekstrem ini rawan memicu sengatan panas (heatstroke), terutama bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Tak hanya itu, meningkatnya debu dan kepulan asap kebakaran selama kemarau turut memperburuk kualitas udara hingga memperbesar risiko penularan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dilansir dari Metrotvnews.com, pantauan cuaca BMKG dalam 24 jam terakhir mencatat suhu maksimum harian di beberapa wilayah telah menembus angka 30 hingga 34 derajat Celsius. Area yang terpapar suhu terik ini membentang dari sebagian besar Lampung, Kualanamu, Semarang, Banyuwangi, Sentani, hingga Gorontalo. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan keterkaitan erat antara cuaca kemarau dan ancaman kesehatan publik. 

"Tidak kalah penting juga sektor kesehatan. Sejalan dengan musim kemarau, itu biasanya cuaca panas karena kondisi pada saat musim kemarau biasanya tutupan awan itu rendah," tutur Ardhasena.

Mengantisipasi tingginya angka kesakitan akibat cuaca ekstrem ini, BMKG menyarankan langkah mitigasi mandiri yang bisa diterapkan sehari-hari. Masyarakat diminta menjaga hidrasi tubuh dengan rajin minum air putih agar terhindar dari dehidrasi saat berkegiatan di bawah terik matahari. 

Penggunaan alat pelindung diri seperti topi, payung, kacamata hitam, hingga tabir surya juga sangat dianjurkan untuk menahan paparan langsung sinar ultraviolet (UV). Di samping itu, pemakaian masker menjadi hal krusial untuk menyaring polusi udara dan debu jalanan.

Sektor kesehatan dinilai sebagai salah satu bidang kritis yang harus bergerak cepat dalam memetakan serta meredam dampak buruk iklim ini. BMKG berkomitmen untuk terus memperbarui analisis dinamika atmosfer serta kondisi laut sepanjang tahun 2026 demi mendukung pencegahan masalah kesehatan lingkungan. 

"Kondisi penurunan kualitas udara ini sangat berasosiasi dengan timbulnya penyakit ISPA di tengah masyarakat," pungkasnya.

iconLangganan

ke Newsletter