Cetak Agropreneur Masa Depan: Kolaborasi Strategis UDB Jawab Tantangan Krisis Pangan Global

JATENGPEDIA.ID–Di tengah tantangan pangan global, Universitas Duta Bangsa menghadirkan sebuah ruang diskusi yang tidak hanya berbicara teori, tetapi juga solusi nyata. Kuliah umum Food Tech Talk sukses diselenggarakan oleh kolaborasi Prodi Teknologi Rekayasa Pangan dan Agribisnis UDB bersama Himpunan Mahasiswa (HM) Agribisnis dan HMP Terpang. Diikuti oleh 100 an mahasiswa dari kedua prodi tersebut dan prodi lain, kegiatan berjalan dengan antusiasme dari peserta.
Melalui Food Tech Talk yang diselenggarakan (15/4) di ruang teater UDB kampus Nusukan, Surakarta, mahasiswa diajak memahami bahwa persoalan pangan Indonesia bukan sekadar soal produksi, melainkan bagaimana sistem bekerja dari hulu hingga hilir.
Edi Prayitno owner KUB Marta Tirtorejo Wonogiri menyampaikan melalui cerita nyata bahwa ‘Singkong yang hanya bernilai Rp500/kg dapat diubah menjadi mocaf bernilai puluhan ribu rupiah melalui inovasi pengolahan’.
Namun, di balik potensi besar tersebut, terdapat kenyataan yang tidak bisa diabaikan.
Prof. Dr. Ir. Mohamad Harisudin, M.Si, guru besar UNS mengungkapkan ‘Sektor pertanian Indonesia masih dibayangi berbagai paradoks’. Kesenjangan antara sektor hulu (petani) dan hilir (industri pangan) menjadi salah satu akar masalah. Petani sering berada pada posisi lemah dalam rantai pasok, sementara industri menghadapi keterbatasan bahan baku yang stabil dan berkualitas.
Sementara, Retna Dewi Lestari, SP., M. Si., memaparkan ‘Masalah pangan bukan semata soal produksi, tetapi soal sistem agribisnis yang belum terintegrasi secara optimal dari hulu hingga hilir. Produksi meningkat, tetapi nilai ekonomi tidak selalu mengikuti’.
Pada acara Food Tech Talk ini, mahasiswa didorong untukmenjadi agropreneur, bukan sekadar job seeker saja tetapi menciptakan produk pangan inovatif, memperkuat branding dan digital marketing produk lokal, serta memanfaatkan teknologi untuk memotong rantai distribusi.
Seperti yang tersirat dalam kegiatan ini, masa depan pangan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling banyak menanam, tetapi oleh siapa yang paling cerdas mengelola sistemnya. Dipimpin oleh Ketua Panitia Bimo Sefrianto, SP., M. Si, serta didukung oleh Kaprodi Teknologi Rekayasa Pangan, Laela Nur Rokhmah, S. TP., M. Sc. dan Kaprodi Agribisnis, Rahmawati Setiyani, S. Hut., M. Sc, Food Tech Talk menjadi simbol sinergi akademik yang nyata.













