Mencari

Imbas Rupiah Melemah, Biaya Produksi Pengrajin Tahu Tempe Membengkak

Imbas Rupiah Melemah, Biaya Produksi Pengrajin Tahu Tempe Membengkak

Tempe-dijual-di-Mamuju
JATENGPEDIA.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memberikan dampak nyata bagi para pelaku usaha kecil di tanah air khususnya pengrajin tahu dan tempe. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyoroti kondisi di mana depresiasi mata uang garuda yang sempat menyentuh level Rp18.012 per dolar AS telah mendongkrak harga komoditas kedelai impor. Akibatnya, biaya produksi membengkak dan mengikis keuntungan para pedagang, sehingga sebagian dari mereka terpaksa menaikkan harga jual ke konsumen demi bertahan hidup.
"Saya dengar penjual tempe, penjual tahu sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan-bahannya masih diimpor," ujar Purbaya dikutip dari Metro TV di Kompleks Parlemen, Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2026.


Dilansir dari Metro TV News, lonjakan harga bahan baku utama ini secara otomatis membebani operasional harian industri rumahan tersebut. Menkeu membenarkan bahwa ketergantungan pada pasokan luar negeri membuat para produsen makanan lokal ini rentan terhadap fluktuasi kurs. Ketika rupiah melemah, modal yang harus dikeluarkan untuk membeli kedelai menjadi jauh lebih besar. Menanggapi situasi yang memberatkan ini, Purbaya pun menjelaskan dampak langsungnya pada rantai produksi.
“Yang jelas itu kan menaikkan cost of production mereka," tambahnya.


Menkeu menilai gejolak di pasar keuangan belakangan ini lebih disebabkan oleh persepsi keliru dan sentimen negatif pelaku pasar mengenai arah kebijakan fiskal negara. Purbaya membantah isu tersebut dan menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia di berbagai daerah sebenarnya masih bergerak positif dan dalam kondisi yang kokoh. Menurutnya aktivitas riil di masyarakat tetap menunjukkan geliat yang baik. 
"Padahal itu enggak benar. Karena APBN kita bagus, ekonomi tetap cukup bagus," imbuhnya.


Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah berkomitmen penuh untuk mengencangkan kerja sama dengan Bank Indonesia (BI) melalui sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih padu. 
Sinergi ini diharapkan tidak hanya menstabilkan pasar makro, tetapi juga memberikan efek perlindungan konkret pada daya beli masyarakat dan menekan biaya hidup agar tidak melonjak drastis. Pemerintah optimis penguatan koordinasi ini akan mengembalikan kepercayaan pasar terhadap rupiah. 
"Ini supaya kebijakan semakin sinkron supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian. Sebelumnya juga ada erat, cuma kita lebih eratin aja." Pungkasnya.

iconLangganan

ke Newsletter