Jaga Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia dan Kemenkeu Perkuat Sinergi Kebijakan

JATENGPEDIA.ID - Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sepakat untuk mempererat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Langkah strategis ini diambil demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa keharmonisan kedua otoritas ini sangat krusial agar kebijakan yang dikeluarkan dapat saling mengisi sesuai porsinya masing-masing.
“Penguatan koordinasi fiskal, moneter itu terus kita lakukan dan saat ini adalah memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter seirama saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing. Untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Perry, sebagaimana di kutip dari Antara dalam konferensi pers di Jakarta.
Dilansir dari Metro TV pada Sabtu (6/5), terdapat dua langkah utama yang disepakati untuk memperkokoh stabilitas mata uang garuda tersebut. Strategi pertama berfokus pada peningkatan daya tarik imbal hasil dari instrumen keuangan domestik agar aliran modal asing (inflow) bisa kembali masuk ke pasar Indonesia setelah sebelumnya sempat tertahan akibat kenaikan suku bunga global.
“Ada dua yang berkaitan dengan penguatan koordinasi moneter fiskal untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah yang pertama adalah meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portofolio inflows kembali masuk. Dengan kenaikan bunga luar negeri memang itu ada outflow. Ada saham, SBN dan juga kecil di SRBI. Oleh karena itu fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.” Tambahnya.
Sementara itu, langkah kedua difokuskan pada pengelolaan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan secara matang. Hal ini diwujudkan lewat penempatan kas pemerintah yang tetap berada di Bank Indonesia, namun disertai dengan peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan oleh bank sentral kepada pemerintah. Skenario ini dirancang agar instrumen moneter dan fiskal dapat bergerak beriringan tanpa saling mengganggu.
“Nomor dua adalah sama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap di BI tapi tentu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah. Dengan demikian operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah sementara operasi fiskalnya juga mendukung,” imbuhnya.
Sinergi yang berkelanjutan ini pun mendapat sambutan hangat dan dukungan penuh dari pihak bendahara negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa sinkronisasi yang semakin matang antara Kemenkeu dan BI dipercaya mampu mendongkrak kepercayaan para pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia. Dengan kebijakan yang berjalan beriringan, dampak positif bagi sektor riil pun diharapkan bisa terasa jauh lebih besar.
“Kita akan mendukung bank sentral, memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian," pungkas Purbaya.













