Mencari

Krisis Pangan Pasca-Gempa Nagekeo, Puluhan Pengungsi Terisolasi Tanpa Bantuan

Krisis Pangan Pasca-Gempa Nagekeo, Puluhan Pengungsi Terisolasi Tanpa Bantuan

download - 2026-08-20T152711.088
JATENGPEDIA.ID - Puluhan warga Pesisir Selatan di Kampung Lokawolo, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa bertahan hidup di dalam bangunan bambu berukuran 6 x 6 meter. Langkah tersebut diambil pascabencana gempa bumi yang menguncang wilayah Nagekeo sejak Sabtu, 15 Agustus 2026. Di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian pada Kamis, 20 Agustus 2026, puluhan warga terpantau mengandalkan pasokan pangan seadanya demi menyambung hidup.

 

Dilansir dari Metrotvnews.com, sekitar 40 pengungsi di tempat tersebut kini tak lagi mengonsumsi nasi dan lauk-pauk sehari-hari. Mereka hanya bergantung pada sisa hasil bumi seperti ubi dan pisang yang dipetik dari sekitar pemukiman. Hidup dalam kekhawatiran akan gempa susulan, kondisi pengungsi kian memprihatinkan lantaran akses jalan utama menuju desa mereka terputus total akibat material longsor.

 

Salah seorang pengungsi, Hermina Ugha, mengungkapkan bahwa bantuan logistik dari pihak terkait belum menyentuh kawasan mereka sejak musibah terjadi. 

"Jadi selama 4 hari ini, belum pernah ada yang membantu kami. Selama empat hari ini, kami masih konsumsi dengan makanan tradisi kami, seperti pisang dan ubi-ubian," ujar Hermina.

 

Warga setempat hingga kini belum berani pergi ke pasar maupun kembali mengolah ladang mereka yang mayoritas terletak di lereng gunung. Retakan tanah yang muncul di sejumlah titik membuat area perkebunan sangat rawan memicu longsor susulan. Kebutuhan pokok pun makin sulit didapat karena infrastruktur jalan menuju area perdagangan rusak berat dan tidak bisa dilalui kendaraan.

 

Penderitaan pengungsi kian bertambah ketika guncangan hebat kembali terasa pada Kamis dini hari, disertai terpaan angin kencang di lokasi tenda penampungan. Tokoh masyarakat setempat, Niko Ndapa, membeberkan kepasrahan warga yang hanya bernaung di bawah tenda terpal seadanya. 

 

"Dilanjutkan dengan angin yang begitu kencang, sehingga kami mengungsi dengan terpal apa adanya. Kami minta bantuan bapak pemerintah," tutur Niko penuh harap agar penanganan darurat dan bantuan pangan segera didistribusikan ke desanya.

 

iconLangganan

ke Newsletter