Mengenal Bed Rotting, Tren Rebahan Gen Z yang Berisiko Mengganggu Kesehatan Mental

JATENGPEDIA.ID - Istilah bed rotting atau menghabiskan waktu berhari-hari di atas tempat tidur sambil bermain ponsel atau menonton serial belakangan menjadi tren pemulihan diri (self-care) yang populer di kalangan Gen Z seluruh dunia. Di tengah tingginya tekanan akademis dan kerja, berbaring seharian dianggap sebagai cara paling ampuh untuk melepaskan beban pikiran dan mengisi ulang energi. Namun, ketika kebiasaan ini dilakukan secara berlebihan dan berkepanjangan, batas antara istirahat yang sehat dan isolasi diri menjadi makin samar.
Membiarkan tubuh berada dalam posisi pasif di atas kasur dalam durasi yang sangat lama sebenarnya tidak benar-benar memulihkan kelelahan. Secara anatomis, kurangnya pergerakan fisik justru membuat sirkulasi darah menjadi lambat, otot kaku, dan tubuh terasa makin lemas saat terbangun. Tempat tidur yang seharusnya menjadi simbol lokasi istirahat berkualiti justru kehilangan fungsinya karena tercampur dengan aktivitas stimulasi otak lainnya.
Dari sudut pandang psikologis, kebiasaan mengisolasi diri di atas kasur sering kali menjadi mekanisme pertahanan diri yang tidak sehat (maladaptive coping mechanism). Bukannya menyelesaikan masalah atau stresor yang ada, seseorang justru menggunakan tempat tidur sebagai tempat bersembunyi dari kenyataan. Hal ini dapat memperburuk gejala depresi dan rasa kesepian karena minimnya interaksi sosial secara langsung dengan dunia luar.
Selain itu, kebiasaan ini merusak higiene tidur (sleep hygiene) secara signifikan. Ketika seseorang menggunakan tempat tidur untuk bekerja, makan, dan menonton hiburan sepanjang hari, otak akan kehilangan asosiasi alami antara tempat tidur dan tidur. Akibatnya, saat malam tiba dan tubuh benar-benar ingin beristirahat, otak tetap berada dalam kondisi siaga sehingga memicu gangguan tidur yang parah.
Restorasi energi yang sejati sebenarnya tidak didapatkan dari sikap pasif total, melainkan dari keseimbangan aktivitas. Mengganti pola bed rotting dengan olahraga ringan, berjalan-jalan di ruang terbuka, atau menyalurkan hobi kreatif jauh lebih efektif untuk menyegarkan pikiran. Mengelola stres dengan cara yang aktif akan memberikan dampak positif yang bertahan lebih lama bagi keseimbangan jiwa dan raga.













