Mencari

Terbongkar! Adanya Kekerasan di Daycare Little Aresha Jogja

Terbongkar! Adanya Kekerasan di Daycare Little Aresha Jogja

daycare
JATENGPEDIA.ID–Kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta, kini tengah menjadi sorotan hangat setelah seorang wali murid bernama Huri angkat bicara. Ia mengaku sangat terpukul saat mengetahui kondisi asli tempat penitipan tersebut yang selama ini terkesan tertutup bagi orang tua. Huri yang datang ke Polresta Yogyakarta pada Sabtu (25/4) mengungkapkan rasa penyesalannya yang mendalam. 

"Itu malaikat kecil saya yang harusnya saya jaga tapi atas keteledoran saya, anak saya justru yang terkena dampaknya," Ujar Huri.

Kejanggalan mulai terungkap saat kondisi fasilitas yang ada ternyata jauh dari apa yang dijanjikan di awal pendaftaran. Dilansir dari akun media sosial Pandangan Jogja, pihak daycare sebelumnya mengklaim menyediakan ruang berpendingin udara (AC) namun kenyataannya hanya tersedia kipas angin dengan sirkulasi udara yang buruk bagi puluhan anak. Kondisi ruangan yang panas dan pengap tersebut dianggap sangat tidak manusiawi untuk anak-anak kecil. 

"Kami tidak menemukan AC, semuanya kipas angin dan ventilasinya juga minim sekali. Bayangkan lima puluh anak dalam satu rumah hanya menggunakan kipas angin ya menurut kami tidak layak padahal kami sudah bayar mahal,” " tambahnya.

Selain masalah fasilitas, Huri juga membeberkan adanya perlakuan tidak wajar terhadap anak-anak seperti kaki yang diikat dengan dalih agar mereka tidak berlarian. Bahkan saat penggerebekan dilakukan, ditemukan banyak anak yang hanya mengenakan popok tanpa pakaian di dalam ruangan yang menampung sekitar 50 siswa tersebut. Huri merasa selama ini para orang tua telah dikelabui oleh pihak pengelola yang melarang mereka masuk ke area penitipan dengan alasan menjaga kesterilan ruangan.

"Ternyata itu sebagai modus supaya orang tua tidak punya akses untuk melihat kondisi sebenarnya di dalam," imbuhnya.

Kecurigaan para orang tua semakin diperkuat dengan tidak adanya grup komunikasi resmi seperti WhatsApp khusus wali murid, sebuah hal yang dianggap tidak lazim bagi institusi pendidikan atau tempat penitipan anak. Kini Huri bersama belasan orang tua lainnya mendesak pihak kepolisian agar mengusut tuntas kasus ini dan memberikan sanksi yang seberat-beratnya kepada para pelaku. Harapan besar mereka adalah agar keadilan segera ditegakkan bagi anak-anak yang menjadi korban. 

"Kami akan terus mengawal supaya proses hukumnya berjalan semestinya dan pelaku dikenakan pasal yang sesuai dengan hukuman maksimal," tegas Huri menutup keterangannya.

 

 

 

 

 

 

iconLangganan

ke Newsletter