Mencari

Awal Pekan yang Berat, Kurs Rupiah Merosot Hadapi Dolar AS

Awal Pekan yang Berat, Kurs Rupiah Merosot Hadapi Dolar AS

images (54)
JATENGPEDIA.ID - Nilai tukar rupiah dibuka merosot pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Mata uang Indonesia ini mengalami koreksi sebesar 26 poin atau sekitar 0,14 persen, yang membuatnya tertahan di posisi Rp18.091 per dolar AS jika dibandingkan dengan penutupan pada pekan sebelumnya. 

Tren penurunan ini ternyata tidak terjadi sendirian, melainkan selaras dengan pergerakan mayoritas mata uang di wilayah Asia yang kompak memerah. Sebut saja yuan China, peso Filipina, ringgit Malaysia, dolar Singapura, yen Jepang, hingga won Korea Selatan yang semuanya ikut tertekan oleh kegagahan mata uang Negeri Paman Sam.

Kondisi lesu ini ternyata tidak hanya melanda mata uang regional, melainkan juga merembet ke sejumlah mata uang utama negara-negara maju dunia. 

Dilansir dari CNN Indonesia, nilai tukar euro Eropa, poundsterling Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, hingga franc Swiss terpantau ikut loyo dan tak berdaya menghadapi keperkasaan dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi ini. Situasi pasar keuangan global yang sedang bergejolak membuat para pelaku pasar cenderung mengalihkan aset mereka ke mata uang yang dinilai lebih aman.

Melemahnya posisi rupiah ini disinyalir kuat terjadi akibat dampak dari eskalasi situasi keamanan dunia yang kembali memanas baru-baru ini. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memaparkan bahwa meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran besar di pasar global, yang berujung pada lonjakan harga minyak mentah dunia. 

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya tensi geopolitik di timteng yang menyebabkan lonjakan pada harga minyak mentah dunia," ujar Lukman.

Melihat tekanan eksternal yang cukup kuat tersebut, pergerakan nilai tukar domestik diperkirakan masih akan mengalami volatilitas sepanjang hari ini. Berdasarkan proyeksi pergerakan pasar saat ini, fluktuasi kurs rupiah diprediksi akan bergerak dan bertahan pada kisaran sensitif di rentang Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS. Para pelaku usaha dan investor pun diharapkan tetap mencermati perkembangan situasi geopolitik global ini karena dampaknya yang langsung memengaruhi stabilitas ekonomi dalam negeri.

 


 

iconLangganan

ke Newsletter