Dongkrak Sektor Perkebunan, Kementan Kucurkan Rp10 Triliun untuk Garap Ratusan Ribu Hektare Lahan

JATENGPEDIA.ID - Kementerian Pertanian (Kementan) kini tengah memulai sebuah gebrakan masif untuk memperkuat ketahanan sekor perkebunan di tanah air. Di bawah komando Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, pemerintah menargetkan perluasan wilayah tanam komoditas unggulan hingga mencapai 870.000 hektare yang tersebar di berbagai wilayah.
Tepat pada Kamis, 18 Juni 2026, langkah awal mega proyek ini direalisasikan dengan mengumpulkan para penyedia bibit nasional di Jakarta guna menyelaraskan strategi percepatan program. Agenda berskala besar ini merupakan bagian dari instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan potensi lahan subur di Indonesia dan menjadikannya motor penggerak ekonomi baru bagi para petani nasional.
Dilansir dari Metro TV, alokasi dana fantastis senilai Rp9,95 triliun atau hampir menyentuh angka Rp10 triliun telah disiapkan untuk mendanai program yang berjalan multi-tahun ini. Dana tersebut difokuskan pada pengembangan tujuh komoditas perkebunan bernilai jual tinggi, seperti kelapa, kopi, tebu, kakao, mete, lada, dan pala. Proyek ini disebut-sebut sebagai salah satu inisiatif perluasan lahan tani terbesar yang pernah diinisiasi oleh pemerintah dalam beberapa dekade terakhir. Amran Sulaiman memaparkan kalkulasi anggaran tersebut.
"Totalnya selama tiga tahun ini 870 hektare, anggarannya Rp9,95 triliun, kurang lebih Rp10 triliun," ujar Amran.
Agar implementasi di lapangan berjalan mulus, Kementan menerapkan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik agro-klimat serta kebiasaan menanam masyarakat setempat. Strategi ini diambil agar para petani lokal tidak merasa kesulitan dalam merawat tanaman yang belum pernah mereka budidayakan sebelumnya. Pemerintah ingin memastikan jenis bibit yang didistribusikan benar-benar sejalan dengan potensi alam daerah masing-masing agar produktivitasnya maksimal.
"Supaya (program) ini enggak sulit didorong. Jangan yang tidak biasa tanam kelapa diberi kelapa. Jangan tidak biasa tanam kakao diberi kakao. Yang sudah budayanya tanam kakao (cokelat), iklimnya mendukung, sudah diarahkan ke sana," tambahnya.
Sistem distribusi dan pembibitan juga dirombak total demi menghindari pembengkakan biaya logistik yang kerap menjadi kendala dalam program pemerintah. Kementan memutuskan untuk memproduksi bibit langsung di lokasi pengembangan wilayah terkait, alih-alih mengirimkannya dari satu pulau ke pulau lain. Melalui cara ini, anggaran negara dapat dihemat secara signifikan karena memotong ongkos transportasi antarpulau yang mahal. Menutup penjelasannya, Amran menguraikan strategi efisiensi biaya tersebut.
"Cara pembibitannya adalah di tempat situ, supaya tidak diangkut dari Jawa ke Sulawesi Selatan atau sebaliknya. Ahlinya yang kita datangkan ke tempat itu, jadi hemat dan efisien anggaran." Pungkasnya.













