Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Luwuk Banggai, BMKG Jamin Tidak Berpotensi Tsunami

JATENGPEDIA.ID - Wilayah Luwuk di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 pada Jumat pagi, 5 Juni 2026, pukul 06.28 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengategorikan peristiwa ini sebagai gempa bumi menengah. Berdasarkan estimasi teknis, pergerakan lempeng tersebut dipicu oleh adanya aktivitas deformasi atau patahan batuan di dalam slab Lempeng Laut Sulawesi yang memicu rambatan gelombang seismik hingga ke permukaan.
Meskipun titik guncangan bersumber dari aktivitas tektonik bawah laut, BMKG dengan cepat menenangkan masyarakat agar tidak panik secara berlebihan. Dilansir dari Antara pada Jumat, 5 Juni 2026, tim ahli yang mengamati pergerakan gelombang langsung merilis analisis resmi mengenai struktur patahan yang menjadi dalang peristiwa ini.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault," ujar Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto.
Dampak rambatan dari getaran gempa tektonik ini dilaporkan meluas dan dirasakan di sejumlah daerah sekitar pusat gempa dengan tingkat intensitas yang bervariasi. BMKG mencatat wilayah Luwu dan Bone Bolango merasakan guncangan cukup kuat dengan skala intensitas III-IV MMI. Sementara itu, getaran juga terasa di wilayah Gorontalo pada skala intensitas III MMI, daerah Pohuwatu, Boalemo, dan Gorontalo Utara pada skala II-III MMI, serta wilayah Taliabu yang merasakan getaran lemah pada skala intensitas II MMI.
Berdasarkan data pemetaan geografis, episenter atau pusat gempa bumi ini terletak di wilayah perairan dengan kedalaman 91 kilometer di sebelah timur laut Pulau Puah. Meskipun berada di wilayah lautan luas, parameter kekuatan gempa ini dipastikan aman dari risiko gelombang pasang merusak di pesisir pantai.
"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami." Tambahnya.
Pihak otoritas meteorologi setempat hingga kini masih terus menyiagakan personel guna melakukan pemantauan intensif secara berkala dari stasiun pemantau terdekat. Evaluasi berkala tetap berjalan mengingat parameter gempa bumi pada tahap awal ini sifatnya masih dinamis. Data awal tersebut sangat terbuka untuk mengalami pembaruan atau koreksi final seiring dengan masuknya rekaman data seismik yang lebih lengkap dari stasiun penerima sinyal di sekitar lokasi bencana.













