Ketidakpastian Global AS-Iran Tekan Rupiah ke Level Rp17.878 per USD

JATENGPEDIA.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan performa yang kurang bergairah pada pembukaan perdagangan pagi ini. Melemahnya mata uang Garuda ini sejalan dengan keperkasaan dolar AS yang dipicu oleh ketidakpastian seputar negosiasi perdamaian antara Washington dan Teheran. Berdasarkan data terkini dari Bloomberg pada Rabu (3/6), rupiah terpantau merosot sebesar 39 poin atau sekitar 0,22 persen, yang membuatnya bertengger di posisi Rp17.878 per USD jika dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.839 per USD.
Di sisi lain, catatan dari Yahoo Finance pada waktu yang relatif sama menunjukkan angka yang sedikit berbeda, di mana mata uang domestik berada di level Rp17.858 per USD. Jika dibandingkan dengan pembukaan hari sebelumnya yang berada di angka Rp17.879 per USD, posisi ini sebenarnya memperlihatkan sedikit penguatan meski secara umum pergerakan rupiah hari ini dinilai fluktuatif dan cenderung melemah.
Dilansir dari Metro TV News, Ibrahim Assuaibi selaku analis pasar uang memperkirakan bahwa pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan terus naik-turun dan berpotensi besar ditutup melemah di kisaran antara Rp17.840 per USD hingga Rp17.900 per USD.
Faktor utama yang mengombang-ambingkan kurs rupiah hari ini datang dari sentimen global, khususnya pernyataan kontradiktif dari Presiden AS Donald Trump. Isu ini mencuat setelah Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, sementara kantor berita Tasnim sebelumnya melaporkan Teheran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington. Kegamangan pasar semakin diperparah oleh sikap Trump yang sempat berujar bahwa dirinya tidak keberatan apabila negosiasi tersebut harus berakhir tanpa hasil.
Namun tidak lama setelah memberikan pernyataan itu, Trump meralat situasinya melalui sebuah unggahan di media sosial yang menyebutkan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dan mengatakan ia mengharapkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz dalam minggu depan. Sentimen ini juga berbarengan dengan langkah Lebanon yang mendeklarasikan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel. Konflik di wilayah tersebut sebelumnya sempat mencekik jalur perdagangan minyak dan gas bumi global di Teluk, yang berujung pada lonjakan harga komoditas energi hingga lebih dari 50 persen.
Sementara dari dalam negeri, kondisi makroekonomi Indonesia sebenarnya memberikan angin segar yang cukup stabil. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat inflasi tahunan (yoy) pada Mei 2026 terjaga di angka 3,08 persen, dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,09 menjadi 111,40. Ditambah lagi, sektor manufaktur tanah air mulai merangkak naik ke zona ekspansi dengan skor PMI di level 50,0 setelah sempat merosot bulan lalu. Meskipun demikian, para pelaku industri domestik diimbau untuk tetap waspada karena masih ada ganjalan berupa tingginya biaya bahan baku dan rantai pasok yang belum sepenuhnya normal.













