Mencari

Rupiah Melemah Pagi Ini ke Rp17.839 per Dolar AS Akibat Sentimen Kebijakan The Fed

Rupiah Melemah Pagi Ini ke Rp17.839 per Dolar AS Akibat Sentimen Kebijakan The Fed

download - 2026-08-10T125133.667
JATENGPEDIA.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengawali transaksi di pasar keuangan dengan kecenderungan melemah. Pada Selasa, 18 Agustus 2026, pergerakan mata uang Garuda tercatat mengalami penurunan hingga beberapa poin dibandingkan dengan posisi pada sesi penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan nilai tukar ini dipicu oleh akumulasi dinamika ekonomi yang terjadi di tingkat domestik maupun mancanegara.

 

Tekanan terhadap kurs rupiah terlihat jelas dari pergerakan angka transaksi pada pertengahan sesi pagi. Dilansir dari data Bloomberg, rupiah berada di posisi Rp17.839 per USD pada pukul 09.43 WIB, atau merosot sebesar 41 poin (0,23 persen) dari level Rp17.798 per USD. Sementara itu, acuan Yahoo Finance di rentang waktu yang sama merekam posisi rupiah pada level Rp17.830 per USD.

 

Dari ranah global, pergerakan mata uang nasional sangat dipengaruhi oleh proyeksi para pelaku pasar terhadap arah kebijakan bank sentral AS, The Fed. Sebagian besar investor memperkirakan adanya ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru melakukan pengetatan moneter secara agresif. Estimasi tersebut didukung indikator CME FedWatch yang menunjukkan probabilitas sebesar 63 persen bagi penahanan suku bunga pada September mendatang, sedangkan peluang kenaikan 25 basis poin berada di angka 37 persen.

 

Ketidakpastian di pasar internasional juga didorong oleh sikap waited-and-see para pelaku pasar yang tengah menantikan rilis risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) periode Juli. Dokumen rapat tersebut dipandang sangat krusial karena akan memberikan panduan lebih detail mengenai sudut pandang internal para pejabat bank sentral dalam menentukan proyeksi suku bunga acuan ke depan.

 

Sikap hati-hati pasar kian beralasan mengingat adanya dinamika internal di tubuh bank sentral AS itu sendiri. Perbedaan pendapat dari tiga presiden bank sentral regional yang sebelumnya berseberangan dengan keputusan penahanan suku bunga FOMC mengindikasikan adanya potensi pandangan yang lebih agresif (hawkish) dalam risalah mendatang, sehingga terus membayangi pergerakan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

 


 

 

iconLangganan

ke Newsletter