Mencari

Tepis Isu Perpecahan, Pemimpin Iran Tegaskan Solidaritas Hadapi Gertakan Trump

Tepis Isu Perpecahan, Pemimpin Iran Tegaskan Solidaritas Hadapi Gertakan Trump

dck
JATENGPEDIA.ID–Presiden Iran, Masoud Pezeshkian bersama Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf secara tegas membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang menyebut adanya keretakan di internal kepemimpinan Teheran. Trump mengklaim bahwa para pejabat Iran saat ini terpecah menjadi beberapa kubu yang saling berselisih terutama antara kelompok garis keras dan moderat dalam menentukan sikap terhadap Amerika Serikat. Namun para pemimpin Iran menilai tuduhan tersebut hanyalah upaya untuk merusak citra persatuan nasional mereka di mata dunia.
Dilansir dari CNN Indonesia, Pezeshkian menganggap pernyataan Trump tersebut sebagai karangan belaka yang sama sekali tidak berdasar. Ia menekankan bahwa rakyat Iran tetap bersatu di bawah komando otoritas tertinggi demi menjaga kedaulatan negara.
"Tidak ada garis keras dan moderat di Iran. Kami adalah rakyat Iran dan para revolusioner. Dengan persatuan sekuat baja bangsa dan negara ini, serta kepatuhan penuh terhadap Pemimpin Tertinggi (Mojtaba Khamanei), kami akan membuat agresor kriminal menyesali aksi mereka, Satu Tuhan, satu bangsa, satu pemimpin, satu tujuan, kemenangan untuk Iran, lebih berharga daripada hidup," tegas Pezeshkian melalui akun media sosial X. 
Di sisi lain Donald Trump justru menggambarkan kondisi Iran sedang berada dalam kekacauan hebat akibat konflik internal. Melalui platform Truth Social miliknya, Trump mengeklaim bahwa kebingungan melanda Teheran hingga sulit untuk menentukan siapa sebenarnya yang memegang kendali. 
"Iran menghadapi masa sangat sulit untuk mengetahui siapa pemimpin sebenarnya. Mereka tidak tahu! Perpecahan terhadu antara 'Garis k=Keras' yang sudah kalah telak dalam pertempuran dan 'Moderat' yang tidak begitu moderat (tapi mendapatkan respek). Ini gila!" Ungkap Trump.
Meskipun Trump menyatakan bahwa pihak Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan, ia tetap mencibir kondisi mereka. 
"Mereka semua ingin membuat kesepakatan, tapi mereka semua kacau." Tambahnya.
Namun di balik bantahan resmi tersebut, rumor mengenai ketegangan antara Pezeshkian, Bagher Ghalibaf, dan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Ahmad Vahidi terus berhembus. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Pezeshkian sempat mengancam akan mencopot Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Hal ini dipicu oleh dugaan bahwa Araghchi lebih memilih tunduk pada instruksi Vahidi ketimbang mengikuti arahan sang Presiden.
Laporan dari media luar turut memperkuat desas-desus ini dengan menyebutkan adanya ketidakharmonisan komunikasi di lingkaran kekuasaan. Berdasarkan keterangan sumber dari internal pemerintahan, Araghchi dituding telah bertindak sendiri tanpa memberikan laporan terbaru kepada Pezeshkian selama dua pekan terakhir. Ketegangan ini disinyalir merupakan kelanjutan dari perbedaan pandangan yang serius antara Pezeshkian dan Vahidi yang sudah muncul sejak akhir Maret lalu. Vahidi sendiri saat ini disebut-sebut sebagai figur yang paling mendominasi di jajaran pasukan elit IRGC, yang memicu spekulasi mengenai perebutan pengaruh di dalam struktur pemerintahan Iran.

iconLangganan

ke Newsletter